Random ~

Untuk tulisan kali ini aku ingin cerita2 tentang 2 hal ~

Pertama aku ingin  beropini tentang pasangan2 yang memutuskan untuk menikah muda. Sejujurnya aku bukan seseorang yang ngerti banget tentang pernikahan menurut agama (agama apapun itu), jadi yah disini aku hanya akan berpendapat saja menurut apa yang aku pikirkan secara umum. Oke, jadi sekarang mungkin lagi pada marak2nya anak muda yang mutusin buat nikah muda dengan modal cinta doang, entah apa yang ada dipikiran mereka  untuk sebegitu cepatnya memutuskan untuk menikah. Padahal ketika kita memutuskan untuk menikah dan menjadi sepasang suami-istri, akan banyak hal yang akan berubah. Misalnya dari simpel aja, tempat tinggal kita, keperluan bulanan kita, tabungan masa depan kita dan bnyak hal lain lagi yang harus kita pikirkan dan itu gak bisa dapetin cuma dengan cinta2an doang. Kadang aneh juga melihat orang yang memutuskan untuk menikah dengan alasan kita saling cinta, dan masalah rejeki sudah ada yang atur (Tuhan). Tapi apakah tidak pernah terfikirkan oleh mereka bahwa Tuhan juga memberikan kita akal untuk berfikir bahwa kita juga butuh usaha, bukan cuma ngandelin berdoa dan berharap bahwa Tuhan bakal kasi kita rejeki. Apakah tidak pernah terfikirkan, setelah menikah seharusnya, kita sudah bisa membiayai diri kita sendiri, sudah punya perencanaan yang matang untuk masa depan suami-istri dan juga anak2 kita nantinya. Bagaimana bisa terpikirkan jika segala sesuatu kita hanya bermodalkan cinta dan "biarkan mengalir saja". Belum lagi ketika kita terlalu terburu-buru dalam memilih pasangan hidup, hingga akhirnya ketika kita sudah memutuskan untuk menikah dan ternyata pasangan kita bukanlah yang tepat. Pasangan kita tidak semanis awal perkenalan, dan berakhir dengan penyesalan, karena harus menghabiskan sisa hidup kita dengan pasangan yang benar2 tidak ada kecocokan, ataukah kemudian kita menyalahkan takdir yang mempertemukan kita dan kemudian mengizinkan cinta hadir dan membutakan mata kita. Terlalu disayangkan jika kita menjadikan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya terjadi sekali seumur hidup itu sebagai ajang coba2 atau bahkan hanya untuk mengikuti zaman ~ Sekian. 

Kalau yang kedua ini aku ingin sedikit curhat dan sisanya sedikit opini-opini anak 95an :D 
Dulu, beberapa tahun yang lalu aku adalah salah satu orang yang punya cita2 menikah beda keyakinan. Aku menganggap itu adalah hal cukup menarik ketika seumur hidupmu kamu akan melewati natal dan lebaran (misalnya/contoh doang) bersama2. Akan sangat menyenangkan ketika kita mengahabiskan sisa hidup kita menjadi orang yang sangat toleran, ketika waktu sholat yang lain sholat dan ketika hari minggu waktu beribadah ke gereja yang lain pergi beribadah. Mungkin sangat menyenangkan bila setiap hari kita melihat segala sesuatu berjalan sedamai itu. 
Namun kemudian, aku pernah berada pada satu sisi dimana aku kemudian seperti dipertanyakan kembali tentang keimananku, tentang apa yang ku ketahui tentang agamaku, tentang seberapa jauh aku mengenal agamaku, apakah selama ini aku hanya seseorang yang punya agama namun tidak benar2 hidup menurut ajarannya, atau aku adalah orang yang tau tentang kebenaran tetapi lebih mementingkan apa yang ada terpikirkan oleh otak ini. Sampai akhirnya aku kemudian seperti tertampar oleh pikiranku sendiri, seperti diingatkan kembali bahwa apa yang aku pikirkan harus seirama dengan apa yang menjadi keyakinanku. Dan seperti diingatkan kembali bahwa, terkadang aku terlalu realistis akan kehidupan dunia sehingga bisa saja apa yang ada dipikiranku sudah tidak lagi seirama dengan apa yang seharusnya menjadi keyakinanku. Terkadang kita juga akan ada dimasa dimana kita terlalu terbuai dengan pemikiran duniawi, padahal sebenarnya disitulah Tuhan mungkin sedang membiarkan kita untuk memilih "apakah anakNya ini lebih mencintai Tuhan nya atau manusia ciptaannya". Sejak aku membaca kata2 ini, aku serasa tertampar lagi, aku hampir saja menghabiskan masa tuaku dengan lebih menuruti apa yang aku pikirkan, kemampuan otakku dalam mengambil keputusan, dan bahkan seegois itu untuk berpura2 melupakan apa yang menjadi keyakinanku sejak lahir. Bagiku pribadi, ketika kita mengambil keputusan untuk suatu hal menurutku sangat sensitif seperti ini, seharusnya kembali lagi kita ingat bahwa keputusan kita akan menentukan masa depan kita. Apa ang kita pilih sekarang, seharusnya bisa kita pertanggungjawabkan diakhirnya nanti. Akan lebih menyakitkan lagi jika kamu memaksakan menjalankan apa yang menurutmu salah. Pada akhirnya aku sadar, betapa aku kemudain terlalu egois dalam memilih, bahkan hampir saja aku memilih untuk mengikuti apa yang aku pikirkan bukan apa yang aku yakini. Dan yaps, aku akhirnya benar2 punya jawaban untuk keinginan gilaku itu sendiri bahwa tidak akan lebih bahagia jika kita harus berjalan dengan 2 kepala, kenapa harus dua kepala jika dengan satu kepala itu lebih nyaman. 
Sedikit opini (anak yang pernah galau), kenapa kita harus lebih mencintai ciptaan-Nya melebihi Tuhan sang pencipta ? Apakah kita tidak yakin bahwa Tuhan telah menciptakan kita berpasang2an, dan Tuhan tidak akan memberikan pasangan yang tidak seimbang dengan kita. Kalaupun sekarang Tuhan menginjinkan pertemuan kita (yang berbeda) mungkin Tuhan sedang menguji kita, atau mungkin Tuhan menghadirkan pasangan yang tidak seiman dengan kita karena Tuhan menginginkan kita untuk lebih mencintai-Nya. Tidak akan ada penyesalan jika kita lebih mecintai Tuhan kita dari pada ciptaan-Nya. Karena ciptaan-Nya bisa meninggalkan, tapi Tuhan tidak akan meninggalkan anak2-Nya ! Jadikan setiap pertemuan itu pelajaran, pelajaran untuk lebih dewasa dalam mengambil keputusan, bahkan ketika perasaaan harus berkelahi dengan otak sekalipun. Ingatlah, ketika kita mencintai orang tua kita saja Tuhan akan sangat memberkati kita, apalagi ketika kita benar2 hidup untuk mencintai Tuhan kita. ~ Sekian 

...
Oia, mohon maaf jika ada kata2 yang menyinggung, dibawa santai aja. Btw cerita pertama dan kedua gak nyambung tapi yah sudahlah^^ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Problematika calon mahasiswa dan mahasiswa ~

Kita Gak Punya Nama Genk